A

Rokok Mentol Ternyata Lebih Berbahaya



009832


[imagetag]




Lembaga Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengungkapkan bahwa rokok mentol lebih berbahaya dibandingkan rokok jenis lain. Saat ini lembaga tersebut sedang berkonsultasi untuk membatasi penjualan produk tersebut.



FDA mengatakan bahwa

 rokok dengan rasa mint sama beracunnya dengan rokok lain. 

Perokok pemula yang berasumsi rokok

 mint  memiliki kadar nikotin rendah ternyata akan menemui kesulitan untuk berhenti. Diungkapkan situs

BBC  edisi 24 Juli 2013, rokok mentol merupakan salah satu industri tembakau yang sedang berkembang saat ini. 



Saat ini FDA sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Mereka sedang meminta masukan dari komunitas kesehatan, industri tembakau, dan anggota masyarakat mengenai produk ini. "Rokok mentol mempunyai risiko kesehatan bagi masyarakat, sama seperti rokok non-mentol," demikian hasil penelitian awal FDA.



Temuan lainnya dari hasil penelitian itu adalah kualitas cita rasa dingin dan anestetiknya membuat rokok ini terasa kurang tajam dan lebih menggoda untuk para perokok.



Kesimpulan laporan tersebut mengikuti hasil temuan sebelumnya yang diungkapkan pada 2011 silam, yang menyatakan bahwa pelarangan rokok mentol akan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Namun industri tembakau menyatakan bahwa rokok mentol tidak perlu mendapatkan perlakuan berbeda dari aturan rokok jenis lainnya.



Kelompok mantan pejabat kesehatan, termasuk dua sekretaris kabinet dari era Presiden Carter dan Presiden Bush, mengecam kelambanan FDA. "Kegagalan pemerintah dalam bertindak akan merusak kesehatan masyarakat, dan khususnya berbahaya dan rentan bagi anak-anak muda Amerika dan keturunan Afrika-Amerika," demikian pernyataan bersama mereka.



Menurut penelitian sebelumnya dari US Department of Health, hanya sekitar 25 persen perokok putih memilih rokok mentol, sementara lebih dari 70 persen keturunan Afrika-Amerika merokok jenis ini.

0 Response to "Rokok Mentol Ternyata Lebih Berbahaya"

Posting Komentar